Saya ingat beberapa tahun yang lalu saya pernah direndahkan, sebelumnya saya sudah pernah merasakannya tapi yang itu sungguh yang paling buruk. Saya bingung, manusia macam apa dia?
Bagaimana bisa dia mengucapkan kata-kata yang begitu menyaktkan?
...hmmmm, mungkin saat dia mengatakan sesuatu yang buruk iitu hatinya sedang ia tinggalkan jauh dibelakang rumah. Entahlah..
Lebaran tiba, saat itu saya ingat jalas dulu ada salah seorang teman yang mengajak saya berkunjung ke rumah orangtua dari pemilik mulut kotor itu. Silaturrahmi, yaa saya menerima ajakannya..
Setibanya di rumah orangtua si mulut kotor, yang saya ingat saat itu saya tidak banyak berbicara. Bahkan hidangan yang dihidangkan saat itu-pun tidak saya sentuh sedikitpun. Berdosakah saya?
Saya terlalu sakit untuk memaafkan, tapi walaupun begitu saya tetap berterimakasih kepada Tuhan bahwa sungguh ia sudah memberitahu saya siapa mereka sebenarnya sebeleum ia memberitahu teman-teman saya yang lain.
Saat itu sebenarnya saya sangat malu pada diri saya sendiri, berjam-jam duduk di satu ruangan yang sama tanpa berbicara. Saya menundukkan kepala dan berkelana mengikuti apa yang ada dipikiran saya; kosong,. mungkin saat itu semua orang yang ada disana termasuk teman saya berpikir bahwa saya adalah tipe orang yang benar-benar pemalu, jadi wajar jika saya bersikap seperti itu..
Padahal kenyataannya saya sudah teralu kecewa dan sakit hati..
Beberapa tahun sudah berlalu, tapi kejadian yang begitu menyakitkan saya dulu tidak pernah bisa saya lupakkan..
Sekarang, jauh dari rumah dan keluarga saya bertahan. Terus mencoba mematahkan apa yang sudah orang-orang katakan. Sebenarnya saya ingn pulang, tapi saya takut saya akan sakit lagi, lalu mati..
Disini, ditempat yang sebenarnya tidak saya inginkan ini saya dipertemukan lagi oleh Tuhan dengan si pemilik mulut kotor.. Apa yang harus saya lakukan? Saya tidak pernah suka apapun yang dia ucapkan, bahkan ketika ia memanggil nama saya sekalipun.
Sebisanya saya selalu menghindar, membiarkann banyak orang menngira-ngira bahwa saya sombong lagi angkuh. Tapi sebenarnya tidak, saya hanya mencoba untuk melupakan apa yang sudah pernah dia lakukan kepada saya.
Oh, Tuhan.. Biarkan mereka tau apa yang sebenarnya sudah saya alami.. Tentang kesakitan ini ketika saya harus menyimpannnya jauh dari banyak telinga yang sebenarnya perlu mendengarnya.
Bagaimana bisa dia mengucapkan kata-kata yang begitu menyaktkan?
...hmmmm, mungkin saat dia mengatakan sesuatu yang buruk iitu hatinya sedang ia tinggalkan jauh dibelakang rumah. Entahlah..
Lebaran tiba, saat itu saya ingat jalas dulu ada salah seorang teman yang mengajak saya berkunjung ke rumah orangtua dari pemilik mulut kotor itu. Silaturrahmi, yaa saya menerima ajakannya..
Setibanya di rumah orangtua si mulut kotor, yang saya ingat saat itu saya tidak banyak berbicara. Bahkan hidangan yang dihidangkan saat itu-pun tidak saya sentuh sedikitpun. Berdosakah saya?
Saya terlalu sakit untuk memaafkan, tapi walaupun begitu saya tetap berterimakasih kepada Tuhan bahwa sungguh ia sudah memberitahu saya siapa mereka sebenarnya sebeleum ia memberitahu teman-teman saya yang lain.
Saat itu sebenarnya saya sangat malu pada diri saya sendiri, berjam-jam duduk di satu ruangan yang sama tanpa berbicara. Saya menundukkan kepala dan berkelana mengikuti apa yang ada dipikiran saya; kosong,. mungkin saat itu semua orang yang ada disana termasuk teman saya berpikir bahwa saya adalah tipe orang yang benar-benar pemalu, jadi wajar jika saya bersikap seperti itu..
Padahal kenyataannya saya sudah teralu kecewa dan sakit hati..
Beberapa tahun sudah berlalu, tapi kejadian yang begitu menyakitkan saya dulu tidak pernah bisa saya lupakkan..
Sekarang, jauh dari rumah dan keluarga saya bertahan. Terus mencoba mematahkan apa yang sudah orang-orang katakan. Sebenarnya saya ingn pulang, tapi saya takut saya akan sakit lagi, lalu mati..
Disini, ditempat yang sebenarnya tidak saya inginkan ini saya dipertemukan lagi oleh Tuhan dengan si pemilik mulut kotor.. Apa yang harus saya lakukan? Saya tidak pernah suka apapun yang dia ucapkan, bahkan ketika ia memanggil nama saya sekalipun.
Sebisanya saya selalu menghindar, membiarkann banyak orang menngira-ngira bahwa saya sombong lagi angkuh. Tapi sebenarnya tidak, saya hanya mencoba untuk melupakan apa yang sudah pernah dia lakukan kepada saya.
Oh, Tuhan.. Biarkan mereka tau apa yang sebenarnya sudah saya alami.. Tentang kesakitan ini ketika saya harus menyimpannnya jauh dari banyak telinga yang sebenarnya perlu mendengarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar