Ada yang bilang bahwa perjalan tidak dimulai ketika kita dilahirkan dan tidak berakhir pada kematian. Anak-anak tangga, lorong sempit, gang kotor bahkan trotoar jalan pun tidak memiliki ujung, dan aku percaya..
Ketika usiaku 10 tahun, aku ingat saat itu aku pernah menghitung-hitung langkah, berjalan dengan pikiran yang melayang seperti buih yang muncul dari dalam ombak kemudian mengapung diatasnya. Tidak ada keluarga bahkan teman sekalipun, aku sendirian dan entah sudah berapa langkah ku habiskan. Ombak telah menghempaskan kepalaku, membuatnya pecah hingga aku tidak lagi bisa ku ingat.
Lelah, begitu dahaga dan lapar.. Tapi dikiri dan kananku tidak ku temukan tempat pemberhentian apalagi jamuan sedangkan di depan sana juga tidak ku dapati batas yang bisa memaksa berhenti atau sekedar untuk mengistirahatkan kekesalan.
Matahari menjadi semakin pemalu hingga bulan merah menggantikannya. Saat itulah aku sadar bahwa aku masih terlalu kecil untuk bergabung bersama ombak itu sendiri.
Layaknya tanaman beluntas yang tumbuh di depan rumah dan dijadikan pagar pembatas. Entah siapa yang dulu sudah menanamnya, mungkin ibu atau bahkan nenek..? Tapi yg pasti semakin hari aku pun semakin dewasa, hingga pada saat usiaku 18 tahun kembali ku putuskan untuk menemukan sebuah ujung yang dulu pernah ku cari. Tidak seperti 8 tahun sebelumnya, aku justru menyerah lebih cepat..
Tidak bisa dipungkiri bahwa waktu memang telah merubah banyak hal tapi tidak denganku. Bertemu dengan orang-orang baru, tinggal di lingkungan asing, berpisah bahkan ditinggalkan, tentu saja aku pernah mengalaminya. Lagipula usiaku sekarang hampir menginjak kepala tiga, tapi sayangnya aku masih belum mengerti meskipun sudah begitu banyak manis dan pahit yang ku rasakan. Harusnya aku tersadar sejak dua tahun yang lalu, ya, saat ketulusan yang baru ku bangun itu dihancurkan. Tapi begitu semuanya berlalu aku justru ingin mengulang dan memperbaikinya, walau aku sendiri pun tidak yakin bahwa ada yang salah dengan itu..
Rasa sakit, dikhianati, dibohongi, aku muak dengan semuanya! Begitu juga dengan drama yang tidak perlu, harusnya bisa ku hentikan!
Mengertilah, aku ingin bahagia tanpa harus merasakan ketidakwajaran.. Bantu aku, tolong, jangan biarkan sang waktu menarikku kembali ke masa itu! Masa ketika aku berusia 10 tahun..
Karena jika itu terjadi lagi diusiaku yang sekarang maka ku pastikan aku akan benar-benar menghilang, menyatu bersama ombak atau bahkan hancur bersamanya.
Ketika usiaku 10 tahun, aku ingat saat itu aku pernah menghitung-hitung langkah, berjalan dengan pikiran yang melayang seperti buih yang muncul dari dalam ombak kemudian mengapung diatasnya. Tidak ada keluarga bahkan teman sekalipun, aku sendirian dan entah sudah berapa langkah ku habiskan. Ombak telah menghempaskan kepalaku, membuatnya pecah hingga aku tidak lagi bisa ku ingat.
Lelah, begitu dahaga dan lapar.. Tapi dikiri dan kananku tidak ku temukan tempat pemberhentian apalagi jamuan sedangkan di depan sana juga tidak ku dapati batas yang bisa memaksa berhenti atau sekedar untuk mengistirahatkan kekesalan.
Matahari menjadi semakin pemalu hingga bulan merah menggantikannya. Saat itulah aku sadar bahwa aku masih terlalu kecil untuk bergabung bersama ombak itu sendiri.
Layaknya tanaman beluntas yang tumbuh di depan rumah dan dijadikan pagar pembatas. Entah siapa yang dulu sudah menanamnya, mungkin ibu atau bahkan nenek..? Tapi yg pasti semakin hari aku pun semakin dewasa, hingga pada saat usiaku 18 tahun kembali ku putuskan untuk menemukan sebuah ujung yang dulu pernah ku cari. Tidak seperti 8 tahun sebelumnya, aku justru menyerah lebih cepat..
Tidak bisa dipungkiri bahwa waktu memang telah merubah banyak hal tapi tidak denganku. Bertemu dengan orang-orang baru, tinggal di lingkungan asing, berpisah bahkan ditinggalkan, tentu saja aku pernah mengalaminya. Lagipula usiaku sekarang hampir menginjak kepala tiga, tapi sayangnya aku masih belum mengerti meskipun sudah begitu banyak manis dan pahit yang ku rasakan. Harusnya aku tersadar sejak dua tahun yang lalu, ya, saat ketulusan yang baru ku bangun itu dihancurkan. Tapi begitu semuanya berlalu aku justru ingin mengulang dan memperbaikinya, walau aku sendiri pun tidak yakin bahwa ada yang salah dengan itu..
Rasa sakit, dikhianati, dibohongi, aku muak dengan semuanya! Begitu juga dengan drama yang tidak perlu, harusnya bisa ku hentikan!
Mengertilah, aku ingin bahagia tanpa harus merasakan ketidakwajaran.. Bantu aku, tolong, jangan biarkan sang waktu menarikku kembali ke masa itu! Masa ketika aku berusia 10 tahun..
Karena jika itu terjadi lagi diusiaku yang sekarang maka ku pastikan aku akan benar-benar menghilang, menyatu bersama ombak atau bahkan hancur bersamanya.
