Jumat, 20 November 2015

TOLONG, JANGAN JAUHI SAYA.

Saya bingung, entah apa yang harus saya tuliskan disini. Rasanya ingin sekali saya menuliskan namamu, memenuhi layar berukuran 14" milikku ini.
Sebenarnya saya sangat marah atas apa yang sudah terjadi. Memecah bukit yang tidak jauh dari rumah, menguras laut diujung komplek perumahan yang membosankan ini, saya ingin meluapkan semuanya, emosi yang sudah berkobar seharian ini. Tapi apalah daya, saya lemah..
Malam sudah mulai pergi, langit mulai memuntahkan cahayanya, angin pun mulai berhembus dingin yang menandakan waktu fajar akan segera tiba. Tapi bagaimana dengan saya?
Saya dipenuhi kebingungan, hati masih setia bersembunyi dibalik kekalutan yang memuakkan. Saya harus bagaimana? Tolong bantu saya, kawan..
Sehari dan beberapa hari sebelumnya saya bisa mengatakan saya baik-baik saja, tapi tidak untuk hari ini karena saya sangat berantakan sekali. Bagaimana dengan besok? Saya bisa saja mati!
Menghibur diri dengan banyak koleksi lagu_lagu manis di handphone saya, membalas banyak daftar chatting yang masuk dengan candaan, saya melakukannya seharian hanya agar saya terlihat baik-baik saja dan tidak tengah mengalami guncangan.
Oh, Tuhan.. Saya bukan manafik! Saya tidak bisa menutupi ini.. SAYA TULUS, SAYA MENARUH IBA TERHADAPNYA, SAYA MENGANNGGAPNYA SUDAH SEPERTI SAUDARA SAYA SENDIRI. Saya ingin dia bahagia tanpa harus mengorbankan apapun.. Biarlah saya yang menderita.. Saya tau, Tuhan.. Dia tidak ingin dikasihani, tapi tolong buat dia mengerti bahwa saya tulus.
Tapi apa yang terjadi? Dia salah mengartikan semuanya.. Padahal saya sangat tulus ingin membantu, mencari jalan keluar hingga dia benar-benar bisa terbebas dari pahitnya dunia yang sebenarnya sudah saya rasakan.
Saya sedih.. Apa kesalahan yang sudah saya lakukan? Oh, my bro.. Please 4give me, i just want u to be aware. and I never wanna hear u say; "begitulah adanya.."

Saya tidak pernah melarangmu untuk melakukan apapun. Saya juga tidak pernah membatasi ruang gerakmu. Karena saya tau diri sepenuhnya.. Saya manusia hina lagi berdosa, manusia kotor lagi bodoh, jadi saya mohon mengertilah.. Jangan perlakukan saya seperti ini!
TOLONG!
Saya lemah, jika terus-terusan seperti ini maka saya bisa mati..

Saya sudah cukup sakit, bagaimana mungkin kau bisa melalukan ini?
Saya bingung, sungguh.. Jadi bisakah kau jelaskan semuanya? Alasan kenapa kau ingin menjauhi saya..

Apakah saya tidak cukup pandai untukmu?
Apakah saya tidak cukuup kaya bagimu?
Apakah saya salah jika saya menaruh perhatian lebih terhadapmu?
Apakah saya terlalu hina hingga saya tidak boleh menerangimu?
Apalah benar jika saya ini kau anggap manusia murahaan?
Jelaskan!

Saya akan menerima semuanya.. Saya akan berusaha untuk mengerti apapun keadaannya.
Tapi meskipun begitu, tolong jangan jauhi saya.
Saya juga mohon mengertilah bahwa saya memang sakit. Meskipin demikian tapi saya tidak berharap untuk sembuh, karena saya akan menikmati ini untuk waktu yang lama dan mungkin tak terbatas apapun.
Maaf..

Rabu, 11 November 2015

SAYA MAAFKAN ; dan SAYA KECEWA

Sebelumnya tidak ada yang perlu diingat untuk beberapa bulan maupun tahun kebelakang. Saya rasa cukup saya pikirkan apa yang harus saya lakukan kedepannya, itu saja. Sisanya Tuhan yang akan kerjakan..

Tentang kekecawaan
Tentang kepercayaan yang begitu mudahnya ia khianati
Tentang kepedulian
Tentang rasa ketika saya benar-benar tulus lalu dianggap seperti tidak pernah malakukan kebaikan apapun

Saya memafkan, begitulah yang saya katakan. Bahkan sudah saya tanamkan pada diri saya jauh sebelum saya menulis ini. Bahwa ketika saya sakit karena kecewa dan semua keburukan saya harus bisa memaafkan, setidaknya memaafkan diri sendiri atas segala kesalahan kerana kebodohan saya.
Jujur, saya sangat sedih.. Saya sudah berusaha untuk terus memposisikan diri di sebaik-baiknya posisi untuk teman dan semua orang terdekat saya, tapi nyatanya adalah saya telah  dikecewakan. Tidak habis pikir memang, tapi apalah yang mau dikata jika memang seperti itulah faktanya. Saya sangat kecewa dengan sikap teman-temannya saya..

Beberapa hari bahkan bulan sudah berlalu.. Mungkin mereka lupa atas apa yang sudah mereka perbuat, tapi saya sampai detik ini tidak pernah terlepas dari sakitnya dikecewakan. Seperti terus membawa bara api dalam genggaman, setiap saat.

Saya memaafkanmu, jadi pergilah karena saya akan bangkit.