Selasa, 30 Juni 2015

Saya sakit, jadi saya diam..

Saya ingat beberapa tahun yang lalu saya pernah direndahkan, sebelumnya saya sudah pernah merasakannya tapi yang itu sungguh yang paling buruk. Saya bingung, manusia macam apa dia?
Bagaimana bisa dia mengucapkan kata-kata yang begitu menyaktkan?
...hmmmm, mungkin saat dia mengatakan sesuatu yang buruk iitu hatinya sedang ia tinggalkan jauh dibelakang rumah. Entahlah..
Lebaran tiba, saat itu saya ingat jalas dulu ada salah seorang teman yang mengajak saya berkunjung ke rumah orangtua dari pemilik mulut kotor itu. Silaturrahmi, yaa saya menerima ajakannya..
Setibanya di rumah orangtua si mulut kotor, yang saya ingat saat itu saya tidak banyak berbicara. Bahkan hidangan yang dihidangkan saat itu-pun tidak saya sentuh sedikitpun. Berdosakah saya?
Saya terlalu sakit untuk memaafkan, tapi walaupun begitu saya tetap berterimakasih kepada Tuhan bahwa sungguh ia sudah memberitahu saya siapa mereka sebenarnya sebeleum ia memberitahu teman-teman saya yang lain.
Saat itu sebenarnya saya sangat malu pada diri saya sendiri, berjam-jam duduk di satu ruangan yang sama tanpa berbicara. Saya menundukkan kepala dan berkelana mengikuti apa yang ada dipikiran saya; kosong,. mungkin saat itu semua orang yang ada disana termasuk teman saya berpikir bahwa saya adalah tipe orang yang benar-benar pemalu, jadi wajar jika saya bersikap seperti itu..
Padahal kenyataannya saya sudah teralu kecewa dan sakit hati..

Beberapa tahun sudah berlalu, tapi kejadian yang begitu menyakitkan saya dulu tidak pernah bisa saya lupakkan..
Sekarang, jauh dari rumah dan keluarga saya bertahan. Terus mencoba mematahkan apa yang sudah orang-orang katakan. Sebenarnya saya ingn pulang, tapi saya takut saya akan sakit lagi, lalu mati..

Disini, ditempat yang sebenarnya tidak saya inginkan ini saya dipertemukan lagi oleh Tuhan dengan si pemilik mulut kotor.. Apa yang harus saya lakukan? Saya tidak pernah suka apapun yang dia ucapkan, bahkan ketika ia memanggil nama saya sekalipun.
Sebisanya saya selalu menghindar, membiarkann banyak orang menngira-ngira bahwa saya sombong lagi angkuh. Tapi sebenarnya tidak, saya hanya mencoba untuk melupakan apa yang sudah pernah dia lakukan kepada saya.

Oh, Tuhan.. Biarkan mereka tau apa yang sebenarnya sudah saya alami.. Tentang kesakitan ini ketika saya harus menyimpannnya jauh dari banyak telinga yang sebenarnya perlu mendengarnya.


Selasa, 23 Juni 2015

MUHASABAH CINTA ORANGTUA

Ya Allah, bagi-Mu segala puji
Ya Allah, bagi-Mu segala puja
Ya Allah, bagi-Mu kami persembahkan kesyukuran, keindahan, cinta, dan segalanya untuk-Mu...
Ya Allah, sampaikanlah shalawat dan salam kami kepada teladan kami, kekasihmu, Rasulullah saw...
sampaikan juga kepada keluarga, para sahabat beliau...
dan jadikan kami sebagai pengikut beliau yang kelak berjumpa dengan beliau di surga-Mu...

Ya Allah, ya Al-Ghafar ya Ar-Rahim, wahai Zat yang Maha Pengampun dan Penyayang...
Ampunilah dosa kami dan dosa kedua orangtua kami,
sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangi, mendidik, merawat kami sewaktu kecil, saat ini dan selama-lamanya...
Ya Allh, Engkau Maha Mengetahui, betapa diri ini tak mampu membalas jasa, perjuangan dan cinta orangtua kami...
Maka hanya Engkau yang paling mengerti membalas kedua orangtua kami...
Hanya kasih sayang-Mu yang kuasa membalas kasih sayang mereka...

Ya Ar-Rahman ya Ar-Rahim, kami akui, kami tidak seperti yang Engkau perintahkan dalam ayat-ayat-Mu...
Ya Allah, kami mengakui, betapa kami biasa tidak pandai berterimakasih kepada  orangtua kami...
Tidak pantas menyulam ikatan cinta kepada mereka...
Tak sesuai melukis kasih sayang untuk mereka...

Tak berarti mempersembahkann kebaikan kepada mereka...
Tak ada daftar berarti dari kebaikan, bakti kami kepada mereka...

Ya Allah, kami mohon kepada-Mu, mampukanlah kami selalu merendahkan suara kami bagi mereka,
Kuasakan kami dapat mempercatik tutur kata kami di depan mereka, seperti yang Engkau perintahkan, bahkan sampai ada kata ''ah'' untuk mereka...
Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, sebagaimana Engkau lembutkan hati para Nabi, lembutkanlah hati kami untuk mereka...

Waha Zat yang tidak ada susah untuk-Mu, lunakkanlah sikap kami terhadap mereka...
Tundukkanlah kepongahan kami di hadapan mereka...
Matikanlah kesombongan kami keada mereka.. dan
Lembutkanla hati kami untuk mereka...

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami balasan yang terbaik
Atas kesabaran didikan mereka kepada kami...
Atas ketekunan merawat kami...
Atas air mata yang dicucurkan atas kenakalan kami..
Atas kasih sayang yang mereka limpahkan kepada kami..
Kami mohon ya Allah, balaslah dengan pahala yang besar
Peliharalah mereka sebagaimana mereka memelihara kami...
Jaga mereka dari kejahatan setan dan makhluk-Mu...

Ya Allah, ampunilah kami...
Yang membalas kasih sayang mereka dengan beban perintah dan tuntutan
Padahal sudah rapuh pundak mereka memikul beban,
Yang membalas didikan mereka dengan makian dan teriakan
Padahal telah keriput jasad mereka memikirkan kami
Yang membalas mereka dengan acuhan dan ketidakpedulian
Padahal mereka butuh cinta, butuh apresiasi, butuh ceria, canda dan tawa

Ya Allah, sadarkanlah nurani dan pikiran kami...
Kala harus pergi meninggalkan mereka
Untuk selalu ada rindu pulang untuk mereka
Terangkan dan sejukkanlah jiwa kami
Kala menerima harap dan permintaan mereka
Untuk selalu memenuhi dengan tulus ikhlas
Kuatkanlah tekad kami...
Kala mereka sudah tak kuat menannggung hidup...
Untuk selalu ada di samping mereka...
Tundukkanlah kepala kami...

Kala kami merasa besar, merasa sukses
Untuk  bersimpuh di telapak kaki mereka
Karena surga di bawah telapak kaki mereka

Ya Allah, jadikalah mereka ridha,  sehingga Engkau ridha
Jadikanlah mereka cinta kepada kami, sehingga lahir keajaiban-keajaiban-Mu
Jadikan mereka ikhlas kepada kami, sehingga bermunculan sukses karunia-Mu
Jadikanlah mereka tersenyum kepada kami, sehingga bersemayam karunia hidup bahagia dari-Mu
Jadikanlah mereka bangga kepada kami, sehingga berpamitan tak kembali dari kami murka-Mu
Jadikan mereka senang dengan kami, sehingga nikmat kami ditambah oleh-Mu
Jadikan mereka separuh kami, sehingga bersama kami payung rahmat dan inayah-Mu

Ya Allah, kami mohon kepada-Mu, mohon dengan sangat, mohon dengan asmu-Mu yang agung dan sempurna...
Kabulkanlah do'a kami..

...Amin

Senin, 22 Juni 2015

LEBARAN IDUL FITRI; Antara bayangan rumah limas dan sesuatu yang enggan saya patahkan

Bagaimana bisa selama ini saya bertahan, entahlah..
Saya rasa ada sesuatu yang saya terus bangun disini agar tetap tegar, setidaknya agar terlihat kuat dengan segala rasa rindu yang ada.
Tentang waktu ketika semangkuk sup hangat yang saya nikmati di pagi hari selepas subuh; ada kebersamaan yang hangat lagi penuh kegembiraan menyambut pagi nan penuh berkah.
Tentang iring-iringan langkah kaki menuju tempat dimana gema takbir dikumandangkan; semuanya, wajah yang berseri-seri berkumpul disana, aula dan beranda masjid yang sedikit sempit namun penuh kelapangan.
Tentang sajadah ketika sapu tangan tertinggal di samping bantal semalam; selalu saja sajadah, menutup dan yang menyembunyikan segala keharuan, membuat diri tegar namun beberapa yang peka tetap tidak bisa dibohongi.
Tentang jabat tangan; yang saya buru pertama kali adalah tangan-tangan layu lagi rapuh, seolah ayahlah pemiliknya dan saya menjabat dan menciumnya penuh hormat.
Tentang perjalanan menuju rumah selepas melakukan ibadah, selalu saja ibu-lah yang tiba terlebih dalu; ketika saya tiba, saat itulah momen dimana saya akan berjabat tangan dengan wanita termanis yang tuhan ciptakan untuk saya. Saat itu pasti ada air mata yang pura-pura tidak saya lihat..
Oh, Tuhan.. Begitu kacaunya perasaan saya saat ini...

Saya ingin pulang di lebaran tahun ini, saya ingin selalu merayakannya bersama keluarga dan teman-teman saya. Tapi ada alasan yang tidak bisa saya sebutkan mengapa saya bertahan disini..
Hari ini adalah hari kelima saya berpuasa di bulan ramadhan tahun ini, rasanya cukup menyakitkan ketika saya harus melaksanakan ibadah sahur dan berbuka seorang diri, jauh di perantauan. Namun bukan saya namanya jika saya tidak bisa mengatasi ini.. Saya tau engkaulah Tuhan yang selalu merencanakan hal-hal baik dan memberikan segala sesuatu yang saya butuhkan, itulah sebabnya saya bisa bertahan selama ini..
Tapi meskipun begitu saya tetaplah manusia biasa, ketika saya harus dihadapkan dengan rasa rindu yang teramat maka saya akan menangis. Mengingat satu persatu wajah yang jauh dari pandangan..
Satu lagi, sebenarnya tahun ini saya ingin sekali bertemu dengan salah seorang teman saya yag ada di kampung halaman saya, yakni Palembang. Kabarnya sekarang dia tengah sibuk, ada yang mengatakan dia sedang barada di luar kota, beberapa mengatakan dia berada di Jambi. Entah..