MOTIVASI
KATA-KATA MUTIARA BIJAK
Setiap orang seharusnya melakukan 2 hal dengan kesungguh-sungguhan : mengerjakan hal yang sangat ia sukai, dan mengerjakan hal yang sangat ia benci.
Kemarahan adalah keadaan dimana lidah bekerja lebih cepat daripada pikiran, dan tindakan lebih cepat dari nurani.
Tak ada yang mampu mengubah masa lalu, tapi anda dapat merusak masa depan dengan menangisi masa lalu dan merisaukan masa depan.
Kekayaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak investasi yang dia lakukan untuk memperoleh uang, tetapi seberapa besar investasi yang dia lakukan untuk memperoleh akhirat.
Senyum adalah anugrah Tuhan bagi setiap manusia yang mengandung cahaya kebaikan dan kesucian, membawa kedamaian bagi yang melihat, dan menumbuhkan welas asih bagi yang memberi. Maka tersenyumlah kepada semua orang.
Lebih mudah untuk melawan ribuan orang bersenjata lengkap dibandingkan melawan kesombongan diri sendiri.
Apa yang anda lakukan hari ini, merupakan kunci kebaikan ataupun juga kehancuran hari esok anda. Lakukanlah yang terbaik untuk hari ini.
Betapa sulitnya manusia bersyukur atas nafas yang masih berhembus di badan. Namun betapa mudahnya manusia mengeluh hanya karena kakinya menginjak kotoran.
Apapun yang terjadi pada anda esok hari itu karena apa yang anda lakukan hari ini.
Tuhan tidak menurunkan takdir begitu saja. Tuhan memberikan takdir sesuai dengan apa yang kita lakukan. Jika kita maju dan berusaha, Tuhan akan memberikan takdir kesuksesan. Jika kita lengah dan malas, maka Tuhan akan memberikan takdir kegagalan.
Kepada orang bodoh sekalipun TUHAN mengirimkan keberuntungan, kepada orang gila sekalipun TUHAN memberikan rejeki kehidupan.
Saat kita menatap ke belakang sesungguhnya kita telah tertinggal dengan orang yang merangkak ke depan. Sesungguhnya masa lalu adalah guru bagi kita untuk menatap dan membangun masa depan.
Hal tersulit dalam kehidupan ini bukanlah untuk melampaui orang lain, tetapi melampaui ego dan diri kita sendiri.
Banggalah pada dirimu sendiri, Meski ada yang tak Menyukai. Kadang mereka membenci karena Mereka tak mampu menjadi seperti dirimu.
Duri dalam kaki sulit ditemukan, Apalagi duri dalam hati. Jika ada orang yang melihat duri di hatinya, mana mungkin kesedihan akan berkuasa?
Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasang pasangan.Ada tangan kanan,ada tangan kiri.Ada yang pintar,ada yang bodoh.Jangan bilang kau tak pernah mengecap manisnya keberhasilan,jangan bilang kau gak pernah mengecap pahitnya kegagalan.Tapi biarlah semua seperti air mengalir dan lakukanlah yang terbaik didalam keseharianmu
Jika kamu takut melangkah, lihatlah bagaimana seorang bayi yang mencoba berjalan. Niscaya akan kau temukan, bahwa setiap manusia pasti akan jatuh. Hanya manusia terbaik lah yang mampu bangkit dari ke jatuhannya.
Tuhan adalah sebagaimana yang kamu pikirkan, Jika kau berpikir Tuhan itu Baik, maka Tuhan akan baik padamu. Namun jika kamu pikir Tuhan itu Buruk, maka Tuhan akan memperlakukan mu dengan Buruk.
Jika kamu tidak suka apa yang ada di sekeliling mu, ubahlah, setidaknya ubahlah dirimu sendiri. Ingat, kamu bukan sebatang pohon.
Manusia terbaik adalah yang selalu berusaha membuat orang lain senang. Lakukanlah walaupun kamu harus meninggalkan mereka dan sendirian.
Kelebihan kita adalah, kita mampu memulai, dan kita juga mampu untuk MENGAKHIRI.
Kita Selalu punya pilihan tiap hari. Tinggal kita memilih, memulai niat baik yang kemarin, ataukah menunggu dan mendapatkan rasa penyesalan besok.
Jika kamu melihat dunia, maka lihatlah kebawah, karena jika kau menengadah, maka yang kau dapatkan adalah sakit leher dan mata yang berkunang-kunang.
Hidup ibarat menaiki sepeda, agar tidak terjatuh dari sepeda dan menjaga keseimbangan, kita harus terus bergerak, dan mengayuhkan kaki.
Sebaik-baiknya perdagangan, adalah menjual amal baik untuk ditukarkan dengan surga.
Yang terbaik adalah : "Aku telah mencobanya", dan yang terburuk adalah : "Aku akan mencobanya"
Kadang kita lupa, bahwa untuk melihat diri kita, jalan terbaik adalah melalui mata orang lain.
Ingatlah, kepedihan kita hari ini akan terasa indah dan manis saat kita mengingatnya kelak.
Kumpulkanlah kesalahan saat ini, karena kelak kumpulan kesalahan yang bernama pengalaman itu akan membawamu kepada puncak ke suksesan.
Tuhan sebenarnya tengah bermain catur dengan kehidupan kita. Dia menggerakkan bidak-bidaknya bernama tantangan, cobaan dan godaan, kemudian duduk kembali melihat reaksi kita. Jadi buatlah langkah terbaik sebelum Tuhan memberi kita Skak Mat.
Perlakukanlah setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat yang tulus, meski mereka berlaku buruk padamu.lngatlah bahwa penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tapi karena siapakah dirimu.
Burung Hantu dijadikan simbol kebijakan, karena Seekor burung hantu yang bijaksana duduk di sebatang dahan. Semakin banyak ia melihat, semakin sedikit ia berbicara. Semakin sedikit ia bicara, semakin banyak ia mendengar. Mengapa kita tidak mencoba menjadi seperti burung hantu yg bijaksana itu?
Berduka, berkabung dan menyesali tak kan pernah mampu mengubah keadaan. Hanya bergerak, melangkah dan berbuatlah yang bisa menggantikan kedukaan menjadi kebahagiaan.
Berbuatlah dan jalankan semua impianmu, karena sebenarnya dalam dirimu telah terdapat energi dan kemampuan untuk melakukan apapun.
Kesalahan kita yang paling buruk adalah terlalu sibuk mengamati dan mengurusi kesalahan orang lain.
Orang yang gagal selalu mencari jalan untuk menghindari kesulitan, sementara orang yang sukses selalu menerjang kesulitan untuk menggapai kesuksesan.
Sebenarnya kegagalan kita bukanlah karena adanya kesulitan yang menghambat langkah kita, Tetapi karena ketidak beranian untuk melawan rasa takut dalam diri.
Jadilah manusia yang pada saat kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tapi hanya kamu sendiri yang menangis. Dan pada saat kematianmu semua orang menangis sedih, tapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.
Bila kegagalan itu bagai hujan, dan keberhasilan bagaikan matahari, maka butuh keduanya untuk melihat pelangi.
Anda bisa memiliki apa pun yang Anda inginkan, jika Anda mampu menghilangkan keyakinan bahwa anda tidak akan mendapatkan yang anda inginkan.
Jika Anda menginginkan sesuatu yang belum anda miliki, maka Anda akan harus melakukan sesuatu yang belum pernah anda lakukan.
Kebesaran Seseorang Tidak Terlihat Ketika Dia Berdiri Dan Memberi Perintah, tetapi ketika dia berdiri sama tinggi dengan orang lain, dan membantu orang lain untuk mencapai yang terbaik dari diri mereka.
Cerpen Hari Ibu
Sorotan mata itu telah kumiliki sejak enam bulan yang lalu. Sorotan
dingin serta guratan wajah yang dialiri beban hidup. Aku sudah kasep
dengan kedinginan itu. Sorotan yang melumpuhkan angan-anganku tentang
kehangatan pemiliknya yang acapku temui bersama cincangan ubi.
Seperti pagi yang sudah-sudah, dalam kebisuan yang meregang kehampaan ikatan naluri dua insan yang tak berhijab. Sebelum berangkat ke sekolah terlebih dahulu aku jajakan bungkusan cincang buatan ibu dari rumah makan kerumah makan. Tapi kali ini aku tidak perlu tergesa-gesa mengayuh federal tuaku, karena pasca Ujian Nasional telah seminggu.
Bungkusan berisi potongan ubi yang digoreng setelah dikukus, sudah tidak membebani sepedaku lagi, ketika melewati lampu merah, di sana tampak seorang bocah laki-laki mendekap setumpuk koran di dada telanjangnya. Lalu kudekati.
“Dek, hari ini Riau Pos memuat pegumuman PBUD ‘kan?”
Bocah berusia 8 tahun itu mengangguk bersemangat, mengira aku akan membeli korannya.
“Abang boleh lihat? Bentar… aja!” Aku membuyarkan kegirangannya.
Mata bulat berbinar yang penuh harap, seketika melotot dan mulutnya ikut bersungut. “Melihat berarti membeli, apalagi memegang!!” hardiknya memaksaku untuk beranjak.
Tanpa putus harapan, kukayuh sepeda yang batangnya sudah tak bermerk ke halte, tidak jauh dari lampu merah. Seorang bapak-bapak bertampang sangar, sedang menikmati selintingan tembakau di cerutu kuno dan sebentangan koran. Tubuhnya yang besar serta wajah yang dihiasi jambang yang lebat membuat aku ciut juga, namun apa boleh buat aku harus coba dulu. “Ya Tuhan… semoga dia…” belum sempat aku berada di sampingnya, tiba-tiba sebuah bus berhenti, bapak itu bergegas melipat koran dan menaiki bus.
“Ya…,” aku hanya menghela nafas kecewa, tanpa semangat kunaiki sepeda yang hampir kusandarkan di tiang listrik. “Bagaimana ini, di mana lagi aku bisa lihat koran gratis!” bisik hatiku setengah putus asa. Kayuhanku mulai tak berdaya, sehingga aku pun berhalusinansi, di sebelah kiri pohon Akasia yang rindang melambai ke arahku, menawarkan kesegaran di bawah dekapan dedaunannya yang rimbun. Tanpa piker panjang, kurebahkan sepedaku dan aku pun menyandarkan punggungku di batangnya yang kokoh. Tidak beberapa detik menikmati kesejukan, suara yang tak asing menyapaku.
“Hai… fren… selamat ya… kau diterima di FKIP Kimia Lho…! wah-wah calon guru nih,” tepukan gulungan koran menyusul mendarat di pundakku.
“Wow… kau rupanya, Teja? Selalu saja hadir dengan membawa apa yang kubutuhkan. Aku baru saja kepusingan nyari koran.”
“Biasa ajalah. O ya, eh iya, aku ikut pergi nemenin kamu interview ya, Rif ?”
“Boleh-boleh! Tapi mana dulu namaku di koran ini? Aku mau lihat sendiri. Sapa tau kamu salah baca lagi.” Mataku sibuk mengamati deretan nama yang tertera di halaman koran.
“Tu ha…, belalakan dikit mata tu kawan…” Teja menghujamkan telunjuknya tepat di nama Syarifudin.
“Eh iya, ya! Kalau gitu kita pulang lagi yuk! Kau kubonceng saja kawan.”
***
Sesampai di tengah halaman, cepat-cepat aku turun dari sepeda tanpa sempat lagi menyandarkannya dengan baik-baik, seraya berlari masuk ke rumah. Kuhampiri sosok laki-laki yang terbaring lemah di sudut ruangan yang berhadapan dengan dapur. “Bah…, Abah… Arif lolos PBUD, Bah! Semoga ini jalan untuk meringankan biaya kuliahku nanti.”
Lengan kurus abah meraih pundakku kemudian bergerak mengusap kepalaku. Dengan berlinangan air mata seraya terbata-bata memenggal kalimat. ”Apa pun langkahmu dalam meraih cita-cita, ayah selalu meridhoimu. Jadilah pahlawan dalam bercita-cita.”
Tatkala aku dan abah larut dalam kehangatan, dari dapur terlihat sosok yang sibuk membuka kukusan, sesekali melirik kami dengan tatapan yang biasa-biasa saja. Sedikit pun ia tidak memberi reaksi atau menanggapi kabar yang kuceritakan. Aku sudah terbiasa menghadapi sikap dingin ibu. Bahkan aku sudah tak ingat lagi dengan kehangatan yang pernah ia berikan. Mungkin itu adalah salah satunya pelengkap penderitaanku selain dari kemiskinan. Ibu terus mengaduk cincangan ubi di kukusan., kurasa ia muak dengan berita yang sedikit pun tak mengubah perekonomian keluarga. Kebisuan tanpa kecairan yang mampu kuciptakan bersama ibu, membuatku membantunya tanpa perintah dan diperintah. Kujerang kuali berisi minyak untuk menggoreng cincangan ubi yang baru selesai diangkat dari kukusan.
***
Pagi-pagi aku bergegas mengantarkan bungkusan cincang ubi ke warung-warung dan rumah makan. Aku tergesa-gesa, hingga aku mampir ke rumah Teja dan memaksanya untuk meminjam sepeda motor ayahnya.
Di perjalanan Teja begitu laju mengendarai Astrea ayahnya. Tatkala sampai di persimpangan jalan tak beraspal, sisa air hujan di beberapa lobang di jalan mengotori celana Apolo hitamku. Kemudian ban motor pun bocor, Karena sangking laju dan jalan yang buruk, ditambah bannya yang sudah tua.
Teja memandangku iba, ”Semangat sobat! Ini kode-kode alam! Sudah kau pelajari, bukan? Etika interview…” Teja mengembangkan senyumannya.
Dengan sedikit terobati rasa was-wasku oleh sikap teja, segera kubantu ia menyeret astrea ke bengkel yang kebetulan tak jauh dari tempat kami berdiri.
“ Teja!”
“Apa sobatku tersayang…?”
“Andai saja Tuhan meminta aku menyerahkan orang yang kucintai, maka aku akan rela ia mengambil ibuku dari pada kamu.”
“Ha, apa yang barusan kau ucapkan, kawan? Eling dong! Kasih ibu sepanjang masa, kasih sahabat sepanjang persahabatan.” Teja membayar upah bengkel dan kami pun tancap gas.
***
Proses interview telah hamper seminggu kulewati, dengan harapan yang semakin menggebu-gebu, kuingin lolos. Aku yakin aku lolos, sebab aku menjawab semua pertanyaan dengan tepat, dan sejujurnya, termasuk propesi orang tuaku. Aku terus bersabar menanti Teja hadir dengan teriakan ‘good luck my honey!’, ‘hebat kau kawan, traktir-traktir!’ atau apalah yang biasa keluar dari mulutnya. Kesabaranku sebenarnya sudah sangat renta, andai saja tak ditopang oleh ucapan bijak abah yang selalu menyejukkan hatiku.
Hari Sabtu sore ibu menugasiku memarut ubi untuk membuat bolu kukus pesanan tetangga yang akan mengadakan arisan. Sambil memarut ubi kuperhatikan lekat-lekat wajah tirus ayah yang semakin tak bergairah lagi. Rambutnya kian hari kian berguguran. Aku iba sekali dengan kondisi ayah, telah hampir empat tahun ia tidak menarik oplet lagi, artinya telah hampir 4 tahun pula ia terbaring. Abah, bertahanlah… tunggu aku menjadi orang. Izinkan aku mengabdi.
Ubi yang kuparut telah selesai. Dan kebetulan ibu baru saja pulang dari pasar. Ketika aku melemas-lemaskan pergelangan tangan, Teja datang dengan langkah dan pias wajah tak menunjukkan kegirangan. Perasaanku berubah tak enak. Apalagi kulihat segulungan koran di tangannya. Pelan sekali ia mendekat kepadaku seraya berbisik. ”Sabar sobat, perjuangan belum berakhir, Tuhan mungkin menakdirkan kita ikut SMPTN bersama-sama.”
Aku segera bangkit mendengar ucapan Teja. “Jangan berbicara takdir, Tej! Kalau itu sama sekali tak mungkin. Kau kan tahu, dari PBUD ini saja aku entah kuliah entah tidak.” Kesal.
Teja menatapku tak percaya, “Aku akan membantumu membeli formulir!” ia menmcoba mengertikan aku.
“Simpan bujukanmu, kawan.”
Ibu sibuk dengan pekerjaannya, seperti biasa ia seolah-olah tak pernah dengar apa pun tentang permasalahanku. Dadaku semakin panas, pemandangan yang bergantian di benakku hanyalah wajah ayah yang terbaring lemah dan wajah ibu yang dingin. Aku tak lagi berfikir, untuk membenturkan kepalaku ke tembok rumah yang kulihat seperti susunan roti bantal yang empuk.
***
Kedinginan itu telah usai seiring tetesan terakhir darah dari ubun-ubunku.***
Seperti pagi yang sudah-sudah, dalam kebisuan yang meregang kehampaan ikatan naluri dua insan yang tak berhijab. Sebelum berangkat ke sekolah terlebih dahulu aku jajakan bungkusan cincang buatan ibu dari rumah makan kerumah makan. Tapi kali ini aku tidak perlu tergesa-gesa mengayuh federal tuaku, karena pasca Ujian Nasional telah seminggu.
Bungkusan berisi potongan ubi yang digoreng setelah dikukus, sudah tidak membebani sepedaku lagi, ketika melewati lampu merah, di sana tampak seorang bocah laki-laki mendekap setumpuk koran di dada telanjangnya. Lalu kudekati.
“Dek, hari ini Riau Pos memuat pegumuman PBUD ‘kan?”
Bocah berusia 8 tahun itu mengangguk bersemangat, mengira aku akan membeli korannya.
“Abang boleh lihat? Bentar… aja!” Aku membuyarkan kegirangannya.
Mata bulat berbinar yang penuh harap, seketika melotot dan mulutnya ikut bersungut. “Melihat berarti membeli, apalagi memegang!!” hardiknya memaksaku untuk beranjak.
Tanpa putus harapan, kukayuh sepeda yang batangnya sudah tak bermerk ke halte, tidak jauh dari lampu merah. Seorang bapak-bapak bertampang sangar, sedang menikmati selintingan tembakau di cerutu kuno dan sebentangan koran. Tubuhnya yang besar serta wajah yang dihiasi jambang yang lebat membuat aku ciut juga, namun apa boleh buat aku harus coba dulu. “Ya Tuhan… semoga dia…” belum sempat aku berada di sampingnya, tiba-tiba sebuah bus berhenti, bapak itu bergegas melipat koran dan menaiki bus.
“Ya…,” aku hanya menghela nafas kecewa, tanpa semangat kunaiki sepeda yang hampir kusandarkan di tiang listrik. “Bagaimana ini, di mana lagi aku bisa lihat koran gratis!” bisik hatiku setengah putus asa. Kayuhanku mulai tak berdaya, sehingga aku pun berhalusinansi, di sebelah kiri pohon Akasia yang rindang melambai ke arahku, menawarkan kesegaran di bawah dekapan dedaunannya yang rimbun. Tanpa piker panjang, kurebahkan sepedaku dan aku pun menyandarkan punggungku di batangnya yang kokoh. Tidak beberapa detik menikmati kesejukan, suara yang tak asing menyapaku.
“Hai… fren… selamat ya… kau diterima di FKIP Kimia Lho…! wah-wah calon guru nih,” tepukan gulungan koran menyusul mendarat di pundakku.
“Wow… kau rupanya, Teja? Selalu saja hadir dengan membawa apa yang kubutuhkan. Aku baru saja kepusingan nyari koran.”
“Biasa ajalah. O ya, eh iya, aku ikut pergi nemenin kamu interview ya, Rif ?”
“Boleh-boleh! Tapi mana dulu namaku di koran ini? Aku mau lihat sendiri. Sapa tau kamu salah baca lagi.” Mataku sibuk mengamati deretan nama yang tertera di halaman koran.
“Tu ha…, belalakan dikit mata tu kawan…” Teja menghujamkan telunjuknya tepat di nama Syarifudin.
“Eh iya, ya! Kalau gitu kita pulang lagi yuk! Kau kubonceng saja kawan.”
***
Sesampai di tengah halaman, cepat-cepat aku turun dari sepeda tanpa sempat lagi menyandarkannya dengan baik-baik, seraya berlari masuk ke rumah. Kuhampiri sosok laki-laki yang terbaring lemah di sudut ruangan yang berhadapan dengan dapur. “Bah…, Abah… Arif lolos PBUD, Bah! Semoga ini jalan untuk meringankan biaya kuliahku nanti.”
Lengan kurus abah meraih pundakku kemudian bergerak mengusap kepalaku. Dengan berlinangan air mata seraya terbata-bata memenggal kalimat. ”Apa pun langkahmu dalam meraih cita-cita, ayah selalu meridhoimu. Jadilah pahlawan dalam bercita-cita.”
Tatkala aku dan abah larut dalam kehangatan, dari dapur terlihat sosok yang sibuk membuka kukusan, sesekali melirik kami dengan tatapan yang biasa-biasa saja. Sedikit pun ia tidak memberi reaksi atau menanggapi kabar yang kuceritakan. Aku sudah terbiasa menghadapi sikap dingin ibu. Bahkan aku sudah tak ingat lagi dengan kehangatan yang pernah ia berikan. Mungkin itu adalah salah satunya pelengkap penderitaanku selain dari kemiskinan. Ibu terus mengaduk cincangan ubi di kukusan., kurasa ia muak dengan berita yang sedikit pun tak mengubah perekonomian keluarga. Kebisuan tanpa kecairan yang mampu kuciptakan bersama ibu, membuatku membantunya tanpa perintah dan diperintah. Kujerang kuali berisi minyak untuk menggoreng cincangan ubi yang baru selesai diangkat dari kukusan.
***
Pagi-pagi aku bergegas mengantarkan bungkusan cincang ubi ke warung-warung dan rumah makan. Aku tergesa-gesa, hingga aku mampir ke rumah Teja dan memaksanya untuk meminjam sepeda motor ayahnya.
Di perjalanan Teja begitu laju mengendarai Astrea ayahnya. Tatkala sampai di persimpangan jalan tak beraspal, sisa air hujan di beberapa lobang di jalan mengotori celana Apolo hitamku. Kemudian ban motor pun bocor, Karena sangking laju dan jalan yang buruk, ditambah bannya yang sudah tua.
Teja memandangku iba, ”Semangat sobat! Ini kode-kode alam! Sudah kau pelajari, bukan? Etika interview…” Teja mengembangkan senyumannya.
Dengan sedikit terobati rasa was-wasku oleh sikap teja, segera kubantu ia menyeret astrea ke bengkel yang kebetulan tak jauh dari tempat kami berdiri.
“ Teja!”
“Apa sobatku tersayang…?”
“Andai saja Tuhan meminta aku menyerahkan orang yang kucintai, maka aku akan rela ia mengambil ibuku dari pada kamu.”
“Ha, apa yang barusan kau ucapkan, kawan? Eling dong! Kasih ibu sepanjang masa, kasih sahabat sepanjang persahabatan.” Teja membayar upah bengkel dan kami pun tancap gas.
***
Proses interview telah hamper seminggu kulewati, dengan harapan yang semakin menggebu-gebu, kuingin lolos. Aku yakin aku lolos, sebab aku menjawab semua pertanyaan dengan tepat, dan sejujurnya, termasuk propesi orang tuaku. Aku terus bersabar menanti Teja hadir dengan teriakan ‘good luck my honey!’, ‘hebat kau kawan, traktir-traktir!’ atau apalah yang biasa keluar dari mulutnya. Kesabaranku sebenarnya sudah sangat renta, andai saja tak ditopang oleh ucapan bijak abah yang selalu menyejukkan hatiku.
Hari Sabtu sore ibu menugasiku memarut ubi untuk membuat bolu kukus pesanan tetangga yang akan mengadakan arisan. Sambil memarut ubi kuperhatikan lekat-lekat wajah tirus ayah yang semakin tak bergairah lagi. Rambutnya kian hari kian berguguran. Aku iba sekali dengan kondisi ayah, telah hampir empat tahun ia tidak menarik oplet lagi, artinya telah hampir 4 tahun pula ia terbaring. Abah, bertahanlah… tunggu aku menjadi orang. Izinkan aku mengabdi.
Ubi yang kuparut telah selesai. Dan kebetulan ibu baru saja pulang dari pasar. Ketika aku melemas-lemaskan pergelangan tangan, Teja datang dengan langkah dan pias wajah tak menunjukkan kegirangan. Perasaanku berubah tak enak. Apalagi kulihat segulungan koran di tangannya. Pelan sekali ia mendekat kepadaku seraya berbisik. ”Sabar sobat, perjuangan belum berakhir, Tuhan mungkin menakdirkan kita ikut SMPTN bersama-sama.”
Aku segera bangkit mendengar ucapan Teja. “Jangan berbicara takdir, Tej! Kalau itu sama sekali tak mungkin. Kau kan tahu, dari PBUD ini saja aku entah kuliah entah tidak.” Kesal.
Teja menatapku tak percaya, “Aku akan membantumu membeli formulir!” ia menmcoba mengertikan aku.
“Simpan bujukanmu, kawan.”
Ibu sibuk dengan pekerjaannya, seperti biasa ia seolah-olah tak pernah dengar apa pun tentang permasalahanku. Dadaku semakin panas, pemandangan yang bergantian di benakku hanyalah wajah ayah yang terbaring lemah dan wajah ibu yang dingin. Aku tak lagi berfikir, untuk membenturkan kepalaku ke tembok rumah yang kulihat seperti susunan roti bantal yang empuk.
***
Kedinginan itu telah usai seiring tetesan terakhir darah dari ubun-ubunku.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar